
Menteri Luar Negeri RI Sugiono. (Foto: Tangkapan layar/YouTube Kemlu RI)
Menteri Luar Negeri RI Sugiono pada Rabu (14/1/2026) menyampaikan pernyataan pers tahunannya dalam acara PPTM 2026 di Kementerian Luar Negeri, Jakarta. Dalam pidatonya, Menlu Sugiono menekankan kondisi global saat ini, di mana tata kelola dunia menjadi sangat rapuh dan bagaimana Indonesia perlu menanggapi situasi ini.
Menurut Menlu Sugiono, situasi ini menyebabkan runtuhnya kepercayaan terhadap aturan dan tatanan internasional, yang membuat pengelolaan krisis menjadi semakin sulit.
“Ketika aturan yang disepakati bersama dilanggar tanpa konsekuensi, maka yang runtuh bukan hanya satu aturan, melainkan kepercayaan terhadap aturan dan seluruh tatanan itu sendiri. Di saat yang sama, tata kelola global yang dibentuk untuk mengelola krisis semakin kesulitan mengejar realitas yang terjadi,” kata Menlu Sugiono pada Rabu.
Menurutnya, situasi ini mirip dengan apa yang terjadi menjelang Perang Dunia II, yang menyebabkan keruntuhan Liga Bangsa-Bangsa dan memicu konflik global. Untuk menghadapi kondisi dunia saat ini, Indonesia perlu memiliki ketahanan nasional yang kuat serta kapasitas untuk menentukan arah negara secara mandiri.
“Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi objek. Indonesia tentu saja tidak boleh berada di posisi itu. Kita harus melihat dunia apa adanya: keras, kompetitif, dan semakin tidak terprediksi,” ujarnya.